
Kemarin malam, kami bertamu dirumah salah satu petani jagung terkeren diseluruh bumi, yaitu teman kami sendiri, sebut saja panjul. Tak ada momen khusus bagi kami untuk bertamu, kami hanya ingin berdiskusi saja. Walaupun seringkali ketika berdiskusi kami malah ditinggal tiduran sambil liatin Fb saat lagi ngobrol, itu tidak mengurungkan niat kami. Sepintas kami melihat satu kotak tembakau disuguhkan diatas meja. Tuan rumah mempersilahkan kami untuk menikmati tembakaunya. Setelah kami mencobanya, Wow… rasanya sangat keras sekali.😅
Sebentar kemudian, setelah berbasa-basi ria, terhidanglah secangkir kopi dari tuan rumah untuk kami. Sejenak kami menikmati kopi yang terlalu manis bagi kami. Perlu diketahui, sajian kopi dalam masyarakat umum biasanya memang pasti selalu begitu. Dan di lain waktu, kami akan bahas tentang kebiasaan menghidangkan kopi manis dalam masyarakat ketika menyajikan untuk tamu. Selanjutnya, kami bertanya tentang hal yang berhubungan dengan pertanian. “Njul, apakah ada jaminan perlindungan untuk konsumen terkait pembelanjaan kebutuhan pertanian yang dilakukan oleh petani kepada perusahaan pertanian?”
Misalnya nih, kami beli bibit jagung dari perusahaan A. Setelah informasi lahan kami berikan, perusahaan A merekomendasikan bibit andalannya untuk ditanam di lahan kami. Setelah itu kami tanam sesuai dengan prosedur pengolahan lahan yang dianjurkan oleh perusahaan tersebut. Ketika ada beberapa hal yang terjadi di lapangan seperti bibit tidak tumbuh, batang rusak, buah jagung yang tidak sesuai rencana, apakah ini menjadi resiko bagi petani?
Bukankah perusahaan sebagai penyedia bibit seharusnya juga bertanggung jawab atas resiko tersebut?
Ataukah, memang hal-hal tersebut sudah menjadi permakluman sehingga terjadi pembiaran dan akhirnya petani harus menanggung resiko kerugian tertinggi ?
Suasana menjadi hening…
Dalam pikiran kami, sebenarnya banyak pertanyaan serupa yang muncul terkait permasalahan yang sering terjadi seperti produk pupuk yang tidak bekerja maksimal karena kandungan yang berbeda dengan yang tertera pada kemasan, obat-obatan pertanian yang tidak berfungsi dan hasil tanam yang tidak sesuai dari capaian. Jika petani gagal panen maka kerugian mulai dari pembelian bibit, pupuk, operasional tenaga kerja akan diderita oleh petani. Sedangkan perusahaan bibit dan pupuk sudah mendapatkan keuntungan bahkan sebelum masa panen tiba.
Keheningan terpecah ketika tampak senyuman dari panjul si petani. Dia berkata “Aku tidak bisa menjawab, bahkan seringkali harga pasar lebih rendah dari biaya operasional tanam. Tapi aku tetap menanam. Karena itulah pekerjaanku, jawabnya”.
Bahasa yang sederhana dan senyuman penuh makna itu memberikan hikmat kepada kami. Cara bicaranya membuat kegelisahan itu hilang seketika berganti dengan semangat hidup yang penuh dengan ketulusan batin. Kami tidak berkata apapun, hati kami sibuk menyelami arti atas senyuman dan jawaban sederhana itu.
Sepertinya, menanam adalah pekerjaan yang baik dan mampu membawa pengaruh baik bagi para pekerjanya. Ada kemesraan yang sangat filosofis antara petani dengan alam. Sebesar apapun ketidakpastian atas hasil pertanian tidak akan membuat petani berhenti menanam. Ada keyakinan yang kuat dari dalam dirinya atas pekerjaanya. Sementara itu, biarkan saja dulu industri pertanian berkembang dibelahan bumi yang lain, karena keuntungan terbesar bagi petani adalah kebaikan alam atas pekerjaanya.